Dirjen Pajak Mempersiapkan Ketentuan Pajak E-Commerce yang Akan Dikeluarkan Dalam Waktu Dekat

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan tengah mempersiapkan ketentuan pajak yang juga akan diaplikasikan pada pebisnis elektronik atau e-commerce yang gagasannya juga akan di keluarkan kurun waktu dekat ini.

Dirjen Pajak Mempersiapkan Ketentuan Pajak E-Commerce yang Akan Dikeluarkan Dalam Waktu Dekat

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Ken Dwijugiasteadi menyebutkan, kalau ketentuan pajak tentang e-commerce itu juga akan mengatur langkah pembayaran sampai objek yang juga akan dipungut. ” Minggu depan pajak e-commerce, ” ucapnya, Jumat (6/10).

Ia menuturkan kalau satu diantara mekanisme pemungutan pajak itu diberlakukan pada aktor e-commerce yang mempunyai aplikasi yang semakin membuat konsumen nyaman dengan adanya cek resi, serta ini bukanlah adalah objek pajak baru karna cuma langkah transaksinya saja yang beralih dari konvensional ke elektronik.

” Ingat ya, transaksi on-line bukanlah bermakna objek pajak baru, objek pajak lama yang belum juga terpajaki karna on-line, ” tuturnya.

Terlebih dulu, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilainya pemerintah mesti hati-hati mengatur pajak atas e-commerce supaya tidak punya pengaruh negatif baik untuk industri e-commerce tersebut ataupun beberapa aktornya.

” Mengingat e commerce adalah bidang yang baru tumbuh, jadi semakin lebih baik Pemerintah lebih hati-hati supaya kebijakan yang di ambil tidak men-discourage beberapa aktor, ” katanya.

Menurut Yustinus, butuh identifikasi serta klasifikasi yang pasti berkaitan jenis usaha serta taraf usaha yang ada. Pebisnis rintisan (start-up) seyogianya memperoleh perlakuan berlainan dengan kata lain insentif, supaya bisa tumbuh kembang dengan baik, difasilitasi serta selalu dijaga supaya nantinya bisa berperan maksimum untuk negara.

Diberitakan terlebih dulu, e-Commerce punya Alfamart, Alfacart, sudah menginformasikan tutup service marketplace-nya. Walaupun itu, Alfacart tidak juga akan ditutup permanen.

Perusahaan yang ada dibawah PT Sumber Trijaya Lestari (STL) yang sebagai entitas dari PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (SAT) ini juga akan lakukan restrukturisasi organisasi serta perubahan jenis usaha.

Bila dulunya Alfacart mengusung jenis usaha marketplace, saat ini Alfacart malah juga akan fokus jadi penunjang usaha SAT. Dapat diambil kesimpulan, Alfacart cuma juga akan jadi kanal digital untuk Alfamart.

Restrukturisasi organisasi yang disetir SAT juga beresiko pada deretan eksekutif Alfacart yang pada akhirnya mengundurkan diri, dari mulai CEO Catherine Hindra sampai CMO Haryo Suryo Putro.

Bahkan juga, 50 % karyawan (sekitaran 100 orang) juga di-layoff dengan argumen perampingan susunan organisasi. Meski sekian, beberapa deretan eksekutif ini juga akan tetaplah bertugas untuk menolong project strategis dari SAT.

“Kami tidak tutup operasional Alfacart, tetapi lakukan perubahan jenis usaha untuk tingkatkan kolaborasi Alfamart. Yang akan datang, kami selalu mensupport usaha Alfacart seperti yang bebrapa telah, ” kata Hans Prawira, Presiden Direktur SAT lewat keterangannya.

Ketika yang sama, Catherine Hindra sebagai CEO dari Alfacart juga membetulkan kalau deretan eksekutif tidak sekali lagi juga akan menggawangi e-Commerce itu.

“Setelah berdiskusi dengan pemegang saham, kami memutuskan kalau Alfacart selalu beroperasi serta melayani orang-orang jadi digital extension dari Alfamart Group, ” terang Catherine.

Wanita yang sempat juga memimpin Zalora Indonesia ini membuka ada ketidaksamaan visi yang memicu ketentuan beberapa eksekutif pimpinan, untuk mengundurkan diri dari bagian operasional usaha perusahaan.

” Kami yakin kalau usaha digital groceries atau keperluan satu hari hari di Indonesia mempunyai potensi besar. Baik jadi sisi dari group ataupun dengan perorangan, kami juga akan tetaplah mengerjakan industri ini di masa mendatang, ” ujarnya.

Leave a Reply